07 February, 2016

Jalur TransJakarta Terpanjang Di Dunia, Seharusnya Jadi Kiblat Bus Rapid Transit Dunia

Kali ini penulis BusNesia ingin menulis sejarah dan sedikit harapan dari bus Transjakarta. Penulis berharap bus TransJakarta kelak akan menjadi kiblat Bus Rapid Transit (BRT) di dunia. Pada awalnya ide pembangunan proyek Bus Rapid Transit di Jakarta muncul sekitar tahun 2001. Kemudian ide ini ditindaklanjuti oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso. Sebuah institut bernama Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) menjadi pihak penting yang mengiringi proses perencanaan proyek ini. Konsep awal dibuat oleh PT Pamintori Cipta, sebuah konsultan transportasi yang sudah sering bekerjasama dengan Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Selain pihak swasta, terdapat beberapa pihak lain yang juga mendukung keberhasilan dari proyek ini, di antaranya adalah badan bantuan Amerika (US AID) dan The University of Indonesia’s Center for Transportation Studies (UI-CTS). Transjakarta memulai operasinya pada 15 Januari 2004, ditandai dengan peresmian Koridor 1 yang dioperasikan oleh PT Transportasi Jakarta.


Sistem transportasi TransJakarta pada awalnya diadopsi dari Konsep BRT yang sebelumnya telah diterapkan di banyak negara seperti Amerika Serikat, Kolombia, Brazil, Jerman dan lain sebagainya. Konsep ini dijalankan oleh Pemerintahan DKI Jakarta dengan kebijakan tansportasi massal Transjakarta. Bus Transjakarta memulai operasinya pada 15 Januari 2004 dengan tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta.

Untuk mencapai hal tersebut, bus ini diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain Transjakarta). Agar terjangkau oleh masyarakat, maka harga tiket disubsidi oleh pemerintah daerah. Transjakarta atau umum disebut Busway adalah sebuah sistem transportasi bus cepat atau Bus Rapid Transit yang pertama diterapakan di Indonesia. Sistem transportasi ini diadopsi berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia.

Bogota tahun 2000, misalnya, adalah kota tanpa karakter, semrawut, macet dan polutif. Namun, enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2006, Bogota berubah menjadi kota yang humanis. Kota ini kemudian berhasil dengan program angkutan umum massal memadai, murah, dan manusiawi menembus hingga ke permukiman di pinggiran kota.

Dinamisasi pembangunan di Bogota mulai terasa saat Wali Kota Bogota dijabat Enrique Penalosa pada tahun 1998-2000. Penalosa mempunyai kemauan politik untuk menata transportasi massal sebagai bagian dari strategi pembangunan kota, dan bukan program yang parsial. Penalosa juga mewajibkan semua bangunan di tepi jalan raya mundur tiga meter atau lebih demi pelebaran jalan. Hasilnya, hingga kini lebih dari 300.000 meter persegi ruang publik berhasil ditata (recuperate), dan dibangun untuk trotoar, jalur pedestrian, ruang terbuka hijau, dan lorong, serta jalur tambahan jalan utama. Penalosa merevitalisasi angkutan umum dalam wujud BRT TransMilenio berkelanjutan, dan menjadikannya tulang punggung kemajuan kota. Bahkan menurut Enrique Penalosa, negara yang mapan bukanlah tempat dimana orang orang miskin memiliki mobil. Tapi adalah tempat di mana orang orang kaya menggunakan angkutan umum.


Meskipun Busway di Jakarta meniru negara lain (Kolombia, Jepang, Australia), namun Jakarta memiliki jalur yang terpanjang dan terbanyak di dunia. Sehingga kalau dulu orang selalu melihat ke Bogota, sekarang atau di masa yang akan datang seharusnya Jakarta sebagai contoh yang perlu dipelajari dari segi masalah dan cara penanggulangannya. Semakin panjang jalur, semakin kompleks pula permasalahan yang dihadapi, nah itulah yang kelak jadi pelajaran negara lain. TransJakarta memiliki jalur terpanjang di dunia (208 km), serta memiliki 228 halte yang tersebar dalam 12 koridor (jalur) dan mungkin saja masih akan bertambah. Bandingkan dengan TransMilenio yang beroperasi sejak Desember 2000, yang baru memiliki 9 koridor dengan panjang total 86,5 kilometer. Ditilik dari sisi itu, Jakarta memang lebih unggul dari Bogota.

Meskipun belum sepenuhnya bisa dikatakan berhasil menanggulangi kemacetan, akan tetapi keberadaan Transjakarta lambat laun mulai menjadi pilihan utama bagi penduduk Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan jumlah tingkat penumpang yang dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Semoga saja nanti TransJakarta jadi kiblat BRT dunia.

#Disarikan dari berbagai sumber
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

2 Responses to "Jalur TransJakarta Terpanjang Di Dunia, Seharusnya Jadi Kiblat Bus Rapid Transit Dunia"

  1. ngimpi! hanya modal jalur terpanjang tapi pelayanannya masih belum optimal dan jalurnya sering diserobot kendaraan lain udah merasa Superior dan layak jadi kiblat BRT dunia? memalukan! memangnya indikator "terbaik" itu hanya dari panjang jalurnya saja? selalu ingat semboyan "Quality over Quantity". Saya ingin tau bung Widodo ini mengutip dari mana, karena biasanya artikel seperti dibuat semata untuk mengejar rating, dengan memanfaatkan penyakit Inferiority Complex PARAH yang banyak diderita orang Indonesia. Jadi dengan artikel begini saja, yang penilaian jelas belum tentu benar dapat memunculkan rasa bangga yang amit-amit.

    ReplyDelete
  2. Betul apa yang di sampaikan oleh Bung Krok Krok, maksud saya apabila TransJakarta dikelola dengan benar dan serius bisa menjadi kiblat. Namun faktanya ya seperti yang kita lihat bersama.

    ReplyDelete

Followers

Follow by Email