15 November, 2015

Mengenal Transmisi Semi Otomatis Opticruise Bus Scania

Opticruise adalah transmisi semi-otomatis dari Scania, menggunakan electro-hydraulic sebagai pengendali kopling untuk kehalusan dan kepresisian perpindahan gigi. Scania mengklaim ini adalah cara baru dalam perpindahan gigi. Opticruise, dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan berkendara dan dilengkapi dengan beberapa fitur terbaru yang terintegrasi untuk memberikan kenyamanan yang lebih baik.


Mekanisme perpindahan gigi secara otomatis memberikan keuntungan kepada pengemudi. Disamping memberikan kenyamanan, pengemudi dapat lebih leluasa berkonsentrasi mengendalikan kendaraan dan fokus kepada lalu lintas sekitar, tanpa terbagi konsentrasinya untuk mengontrol putaran mesin dan memindahkan persneling.

Berikut adalah gambaran pengoperasian tuas transmisi Opticruise (K380,K310,K360).


1. Pemilihan mode : R-N-D (Reverse / Mundur – Neutral / Netral- Drive / Menjalankan kendaraan) Posisi power mode berada paling akhir setelah D (Drive).

2. Pengaturan perpindahan gigi secara otomatis / manual.

3. Perpindahan gigi naik / turun: Tarik tuas untuk menaikkan posisi gigi atau dorong kebawah tuas transmisi untuk menurunkan posisi gigi.

4. Manoeuvring Mode: Untuk memasuki mode ini, dorong kebawah tuas selama 0.8 detik ketika kecepatan rendah atau posisi mesin sedang stasioner.

5. Floor Switch : Memicu menurunkan posisi gigi untuk mendapatkan tenaga maksimum dan menggunakan exhaust brake tanpa melibatkan retarder.

Indikator posisi gigi di layar instrument 


  • R, Reverse (Mundur)
  • A, Automatic (Perpindahan gigi secara otomatis)
  • M, Manual (Perpindahan gigi secara manual)
  • AP/MP, Automatic/Manual Power Mode (Perpindahan gigi secara otomatis/manual dalam mode Power Mode)
  • Huruf diikuti pada posisi gigi yang sedang digunakan pada display. Contohnya, A12, M12, AP9, MP9.
  • N, Neutral (Posisi transmisi netral)
  • Posisi gigi selanjutnya dapat diketahui dalam mode A atau P
  • Untuk mengetahui masuk Manoeuvring Mode, tandanya adalah pada huruf “m” setelah posisi gigi yang sedang digunakan. Contohnya A1m

Pengoperasian Scania Retarder
  • Tarik tuas kebawah (ada lima posisi) untuk pengereman menggunakan retarder. Exhaust brake ikut digunakan ketika berada pada posisi kelima.
  • Penggunaan retarder secara otomatis melalui pedal rem : Atur tombol AUT pada tuas ke posisi 1
  • Ketika penggunaan mode retarder secara otomatis, brake blending digunakan untuk menambah kekuatan pengereman ketika menurunkan posisi gigi atau bahasa gampangnya engine brake effect. Roda rem akan secara otomatis mengaplikasikannya untuk mendapatkan pengereman secara halus.

Hill-Hold (Penahan dalam jalan menanjak)
  • Bekerja ketika mendaki atau menuruni bukit
  • Ketika sedang stasioner, roda rem akan mengaplikasikannya sekitar tiga detik ketika mengangkat kaki dari pedal rem. (peringatan audio dan visual akan aktif mengingatkan)
  • Ketika melepas pedal akselereator / pedal gas, hill-hold tidak akan lepas sampai torsi cukup untuk mencegah kendaraan terbalik.
Jika dilihat dari penjelasan diatas, teknologi transmisi semi-otomatis terbaru ini semakin memudahkan pengemudi dalam mengendarai armadanya serta menghemat biaya operasional bagi operator bus. Seperti pernyataan yang dilontarkan oleh Sales Engineer, PT. United Tractors yang membawahi Scania, Mochamad As’at yang yang kami kutip dari situs haltebus.com dalam salah satu artikelnya. “Kami menghadirkan transmisi otomatis agar pelaku usaha transportasi bus bisa profitable.”

Dan yang semakin menambah kemudahan bagi para pengemudi khususnya, segala aktivitas bus dapat dipantau melalui panel instrumen. Menurut As’at, seperti yang dikutip dari situs haltebus.com, fitur-fitur yang bisa ditampilkan di panel instrumen akan merekam dan menilai perilaku pengemudi secara menyeluruh selama perjalanan. Data yang terekam lalu disajikan dalam layar berbahasa Indonesia dengan empat parameter. Ada rekaman pemilihan gigi yang juga terkait putaran mesin, antisipasi pengemudi terhadap situasi jalan, pengendalian bus di tanjakan, serta kerja sistem pengereman.

Keempat faktor itu, lanjutnya, berpengaruh pada kinerja konsumsi bahan bakar selama bus beroperasi. Ada pula indikator yang menunjukkan berapa lama mesin bekerja sejak pertama dihidupkan di awal perekaman hingga perekaman berakhir. Pada akhirnya, prinsip untuk mencapai target bahan bakar ekonomis, pengendalian yang membuat penumpang aman dan nyaman selama perjalanan serta keawetan suku cadang seperti kanvas rem dan kopling, yang didambakan pengusaha bus mudah tercapai.

Sumber :
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email