11 November, 2014

Potret Nyata Bus Kota Di Jakarta

Moda transportasi umum di Jakarta selalu jadi perbincangan hangat di ruang publik. Persoalan moda transportasi umum yang saban hari selalu kita jumpai, mulai dari minimnya jumlah moda angkutan operasional, moda transportasi yang sudah kolot dan tak layak jalan, stasiun dan halte pemberentian yang kurang layak, perilaku berkendara yang serampangan, hingga kebijakan penyelesaian yang tak kunjung temu titik terang, menjadi pusaran yang membelit aktivitas masyarakat. Apa buktinya? mungkin sebagian dari kita, punya pengalaman tak sedap menyoal transportasi umum ini. Khususnya di Jakarta, saya punya pengalaman yang tak menyenangkan, tak memuaskan, saat menggunakan trasnportasi umum. Di sini, saya lebih khususkan lagi pengalamannya terkait pelayanan bus antarkota dan minibus sejenis Metromini, Kopaja dan Koantas Bima. 

Koantas Bima 102


Sebagai pecinta moda transportasi umum, saya lebih sering bepergian dengan memanfaatkan layanan transportasi umum. Bus Transjakarta, misalnya. Bagi saya, selain Transjakarta punya jalur khusus, pelayanannya terbilang cukup baik, namun persoalannya ada pada perawatan bus yang mungkin kurang maksimal. 
Minibus seperti Kopaja, Metromini, dan Koantas Bima, banyak yang tidak terawat namun dipaksakan beroperasi di jantung ibukota hingga mengitari pesisir Jakarta dengan tingkat polusi tinggi, dan perilaku supir yang kadang mengabaikan keselamatan penumpang. Buktinya sangat banyak, setidaknya berdasarkan kumulasi pengalaman saya sendiri. 

Supir asyik teleponan sambil ngebut dan sesekali marah-marah sama cewek yang ada di ujung telepon, yang dibilangnya “sayang”. Logat batak yang kentara, volume bicara yang keras, makin mendramatisir suasana. Belum lagi ulah kernetnya yang gelantungan di sisi pintu sambil teriak-teriak “terus, terus, terus, kiri kosong, majuuu woooi, bablas piiir,yiiihaaaa…dll” (terkesan akrobatik banget, memang). Mirisnya, kernet itu seorang bocah. Saya taksir, dia masih diusia 10-12 tahun.
Nasib nahas tak sampai di situ. Di depan mall Pondok Indah, semua penumpang dimigrasikan ke bus lain yang jelas-jelas beda jurusan meski melintasi sebagian rute Koantas Bima 102 itu. Misalkan, penumpang dipindahkan ke Bus Metromini 72 jurusan terminal Lebak Bulus-Blok M, lintas rute pondok indah. Alhasil, penumpang yang ke Ciputat mesti naik angkot lagi, tentu nambah ongkos lagi. Bukan satu dua kali perilaku migrasi penumpang oleh para supir ini, tapi sepanjang enam tahun di Jakarta, saya sering mengalaminya. Jadi, ini seperti kebiasaan buruk yang termapankan. 
Kualitas pelayanannya semakin memburuk saat kondisi dalam bus begitu semrawut dan kotor. Ada bagian dalam atas bus yang sudah copot, tapi direkatkan lagi dengan solasi. Punggung kursinya pun bolong, sebagian kursi sengaja dicopot supaya bisa menambah quota berdiri penumpang (otomatis, banyak pemasukan), kaca retak juga direkatkan dengan solasi, pintu bus yang sudah dol alias tak bisa dikunci lagi, kaca pintu pecah bahkan ada yang tanpa kaca pintu, kemudi bus yang sudah kelihatan tua, besi badan bus yang sudah karatan, dan kualitas mesin yang bisingnya “minta ampuuun”. 

Perilaku berkendara juga jadi perhatian khusus. Tak hanya Koantas Bima 102 & 510, tapi Kopaja P20, Metromini 72 & 610, juga Bus 76 yang kesemuanya bermarkas di terminal Lebak Bulus dan Ciputat, kadang mengabaikan pelayanan dan keselamatan penumpang. Perilaku supir saat mengemudi jauh lebih buruk dari yang diharapkan. Ada yang nyupir sambil teleponan, ada yang sibuk godain penumpang (khususnya cewek-cewek cantik), eh tau-taunya nabrak dan bikin macet. Ada yang sambil merokok tanpa rasa bersalah karena sudah meracuni penumpang, ada yang ngebut gak ketulungan parahnya sampai menyisir trotoar, juga tidak menjaga jarak aman antarkendaraan di jalanan.
Terakhir, hal yang disorot dari pihak pengelola yaitu ketepatan waktu dan keamanan. Okelah, soal ketepatan waktu gak usah dibahas karena macet hampir di seluruh Jakarta. Tapi keamanan adalah faktor penting yang mesti bicicarakn solusinya. Saat di bus atau minibus, kadang pengamen masuk dengan kondisi memprihatinkan. Saya tidak menolak pengamen, tapi kalu mengamen sukarela tanpa memaksa untuk diberi, itu yang saya maklumi. Lain orang lain cara, saat generasi gepeng (gelandang, pengemis, pengamen) masuk bus, ada yang ala preman menyayat tubuh dengan silet supaya penumpang takut dan akhirnya memberi uang. Saya tidak menolelir mereka, sekalipun dipaksa.
Terlepas dari semua itu, kita tidak bisa serampangan menyalahkan pihak pengelola. Terkadang, perilaku penumpang juga yang memungkinkan pengelola merasa betah dengan buruknya sistem yang sudah termapankan di jalan. Misalkan, banyak penumpang hanya menurut pindah bus saat dimigrasikan. Padahal, kalaupun dilawan dan tidak ada yang mau turun pindah bus, mau tak mau bus akan lanjut lagi. Pada akhirnya, sebagai penumpang kita juga mesti kritis terhadap keadaan transportasi umum yang tersedia.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih

Followers

Follow by Email