07 July, 2014

Sejarah Bus PO PENI Yogyakarta

Keberadaan Perusahaan Otobus (PO) di Yogyakarta sejak awal berdirinya tidak lepas dari upaya pemerintah di era itu, upaya pemerintah ini diawali  pada tahun 1953 dengan mengumpulkan sebanyak 32 veteran perang revolusi untuk disekolahkan menjadi montir. Selesai menjalani pendidikan montir, peran pemerintah tidak berhenti sampai disitu saja, dengan bekal pendidikan montir, pemerintah memberikan modal kepada 32 veteran untuk mendirikan usaha angkutan penumpang, dan dari modal tersebut keseluruh veteran sepakat untuk mendirikan PO yang diberi nama NV Peni.

PO PENI (Foto: Aulia Rahmani)
 Dengan modal pemerintah tersebut, PO. Peni miliki 5 bus bermesin ford yang keseluruhannya digunakan untuk melayani trayek Yogyakarta-Solo PP. Sehingga boleh dikatakan PO. Peni merupakan PO pertama non plat merah (subsidi pemerintah-red) yang menjalani rute Yogyakarta-Solo. Memang, untuk trayek Yogyakarta – Solo kala itu belum seramai sekarang, interval masing-masing bus bisa mencapai lebih dari 15 menit.

Selain PO. Peni, sebenarnya saat itu sudah ada beberapa PO lain yang melayani rute Yogyakarta-Solo. PO tersebut antara lain PO Kidang Mas (tutup usaha tahun 1975), PO Kilat (tahun 1980 gulung tikar) dan Damri (kantor Yogya).

Seiring persaingan antar PO kala itu memang tidak seketat sekarang, namun dengan kondisi perekonomian yang juga masih merangkak, PO. Peni dapat berkembang dengan pesat.
Hal ini terbukti dengan cepatnya PO. Peni membayar pinjaman kepada pemerintah, padahal satu buah bus Ford saat itu seharga 70 ribu, dalam kurun waktu satu tahun telah balik dananya. Dengan kondisi manajemen PO yang sehat dan mampu bersaing dengan PO lainnya, maka menginjak tahun 1960 armada PO Peni mencapai belasan bus.

Memasuki era 70an PO Peni mulai mengalami kesulitan dalam membagi trayek belasan bus nya, untuk mengatasi ini para pemipik PO Peni mulai mencari jalan keluar yang jitu dengan menyewa trayek perusahaan otobus lainnya. Trayek yang disewa adalah milik PO Trimbuko dengan jurusan Surabaya – Malang dan Surabaya – Jombang.

Solusi jitu ini rupanya tidak sesuai dengan yang diharapkan, banyaknya pengeluaran biaya operasional untuk menyewa garasi serta trayek yang tidak sebanding dengan pendapatan, maka PO. Peni memutuskan untuk mengakhiri kiprahnya di Jawa Timur. Namun demikian, kegagalan ekspansi ke Jawa Timur tidak menyurutkan para pemilik PO. Peni untuk menyerah begitu saja. Semangat perjuangan yang masih membara di dada para veteran ini, akhirnya pada era 80-an tercetuslan ide baru untuk membuka trayek baru Yogya – Cilacap.

Dengan terkonsentrasi pada wilayah Jawa Tengah, segala jurus untuk memperbaiki manajemen dan tertatanya system keuangan yang ada, PO Peni terus meningkatkan pelayannya kepada para penumpang dengan memberikan kenyamanan dan keamanan.
Di tengah giat-giatnya PO. Peni meningkatkan kinerja perusahaannya, pertengahan tahun 80-an mulailah bermunculan para pesaing PO. Peni, bahkan tidak hanya siap bersaing, para pesaingnya juga mampu memberikan pelayanan kepada penumpang dengan armada baru.

Di tengah kancang persaingan yang begitu ketatnya, PO Peni rupanya tidak mampu untuk mengikuti kompetisi yang diawali dengan penuh percaya diri dapat bersaing dengan PO-PO lainnya. Guncangan awal yang dialami PO Peni adalah ketika perusahaan ini tidak mampu lagi untuk meremajakan armadanya yang jauh lebih tua ketimbang konterpartnya. Ketidak mampuan ini sebenarnya diawali oleh kesalahan manajemen pengelolaan armada yang lebih memilih pendapatan yang selama ini mereka hasilkan lebih ditujukan atau diperuntukan kepada para anggota sekutu PO Peni selaku pemilik perusahaan, sementara peremajaan armada mereka abaikan.

Dengan munculnya benih-benih perpecahan, maka para anggota sekutu PO Peni selaku pemilik perusahaan yang terdiri dari veteran perang tidak mampu mewujudkan kata sepakat untuk mengakhiri permasalahan di PO. Peni. Dengan perpecahan pendapat ini maka pada tahun 1990 armada PO. Peni banyak yang dijual. Bahkan bukan hanya itu saja, krisis ini rupanya terus berlanjut hingga akhirnya seluruh armada PO Peni habis terjual dan berubah menjadi usaha bengkel. Namun bengkel tersebut juga tidak mampu membangkitkan kegemilangan PO. Peni. Dengan berbagai kesulitan yang dialaminya, memasuki tahun 1998 kiprah PO. Peni di dunia otobus berakhir.

Saat ini para saksi sejarah keberadaan PO. Peni sebagai PO pertama yang dimiliki kota Yogyakarta sudah semakin berkurang, dari 32 veteran perang yang bersekutu kini tinggal 2 orang yang masih hidup yaitu Pak Mardjono (84) dan Bapak Ngadiyo. Sementara untuk kantor dan garasi yang berada di jalan Solo, kini telah dijual dan beralih kepada pemilik baru.

Credit: Bismania Community
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

3 komentar

informasi yang menarik... matur nuwun...

mohon ijin copas fotonya...

silahkan mas Edar santoso

Terima Kasih

Followers

Follow by Email