16 June, 2015

Membaca Makna Semar Dan Angka 600 Pada Bus Sumber Alam Pondok Ungune

Pada bus PO Sumber Alam Patas ber nomor polisi AA 1440 BV Jatah Pondok Ungu terdapat beberapa angka 600 yang di tempel di kaca belakang dan kaca pintu depan kanan. Banyak yang tidak mengerti makna angka 600 pada bus tersebut. Angka tersebut adalah inisial sang pengemudi yang bernama Sutarman. Nah, angka 600 kan kalau di baca "Enamratus" dan kalimat tersebut kalau di baca dari belakang akan berbunyi Sutarmane.


Pak Sutarman (Kiri)

Mas Handoyo (Kanan) Crew Bus







Sedangkan untuk gambar Semar sendiri mungkin itu merupakan tokoh idola pak Sutarman, tapi menurut filosofi orang jawa Semar itttu Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah untuk kesejahteraan manusia. 



Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik".



Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar "kuncung" (jarwodoso/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.


Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat". Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang Ke -Esa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman Prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Gambar Wayang Semar kiranya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya :

Yang wayang itu hanyalah kulit
Yang kulit itu bukan Hakekat
Samasekali bukan , Ia
Hanyalah lambang dan sifat-sifat
Nama-nama dan aspeknya
Yang dalam lambang itu Maya
Dalam Maya ada Ia
Ia adalah yang Maha Wisesa, Wenang wening
Ia tak tampak tapi ada
Ada ini sebagai ada yang pertama
Dan tidak pernah tidak ada
Adanya adalah tunggal
Adanya adalah Mutlak
Ia satu-satunya kenyataan
Ada adalah tak tampak mata
Gaib, misterius, samar
Karena yang ada mutlak itu Tunggal
Yang Tunggal adalah kebenaran
Kebenaran mutlak karena tak ada kebenaran yang mendua
Tan Hana Dharma Mngrwa
Jadi Sang Hyang Tunggal adalah Kebenaran
Sang Hyang Tunggal adalah Samarnya SEMAR
Samar adalah aspek sifat dan Nama
Samar ada pada SEMAR


Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

5 komentar

Suwun mas widodo, artikelnya sangat menarik..

Sama sama mas, asal nulis ini mas dan tanpa konsep

Sutarman babehku kuwe mas... Suwun mas wis ngupas filosofi 600 dan semar.. Dongakna ramaku sehat terus yaa mas..

Sutarman babehku kuwe mas... Suwun mas wis ngupas filosofi 600 dan semar.. Dongakna ramaku sehat terus yaa mas..

Oh njenengan putrane pak Sutarman ya mas...

Amiin semoga sehat selalu mas

Terima Kasih

Followers

Follow by Email